Batik Tulis Motif Parang Dan Peruntukkannya

By | February 10, 2018

Tidak hanya di Jawa, hampir di seluruh wilayah Indonesia memiliki seni batik dengan cirinya masing-masing. Dan hampir semua daerah memiliki proses yang sama dalam pembuatan batik. Batik yang banyak beredar saat ini di pasaran disesuaikan berdasarkan Teknik pembuatannya. Apakah itu batik tulis yang proses pembuatannya hingga beberapa bulan, batik cap yang proses pembuatannya hanya beberapa hari atau batik lukis yang proses pembuatannya cukup beberapa minggu saja. Penggunaan batik di tanah Jawa untuk sehari-hari dahulu disesuaikan dengan kasta atau golongan masyarakat. Sehingga batik yang selalu dikenakan oleh kalangan keraton tidak boleh digunakan oleh masyarakat biasa. Selain itu motifnya juga sangat berbeda antara batik keraton dan batik untuk rakyat biasa.

Jenis Motif Batik Keraton

Batik tulis keraton tentunya hanya boleh digunakan oleh mereka yang termasuk dalam keluarga keraton. Dan bagi lingkungannya seperti abdi keraton juga dilarang untuk menggunakan motif yang sama dengan keluarga keraton. Dan di Indonesia batik keraton juga dibagi sesuai keratonnya masing-masing seperti keraton Yogyakarta, Cirebon, Madura, Surakarta, Pakualaman dan Mankunegaran. Motif batik yang biasa digunakan oleh kalangan keraton seperti Batik Parang Barong, Parang Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe, Udan Riris dan motif yang lainnya, motif parang dilambangkan untuk keperkasaan, menangkal kebatilan, kecepatan, kekuatan, ketajaman berpikir, kepemimpinan dan kesucian.

Ukuran Parang Keraton

Dalam lingkungan keraton terdapat berbagai aturan seperti para bupati yang hanya boleh menggunakan parang berukuran 4 cm. Para putra dan putri dari permaisuri diperbolehkan menggunakan parang berukuran 10 cm. Sedangkan untuk para selir raja menggunakan parang dengan ukuran 8 cm. Akan tetapi untuk raja dan permaisuri serta putra mahkota bebas menggunakan parang berukuran berapa saja. Namun yang pasti motif parang ini pantang untuk digunakan saat prosesi akad nikah karena menurut mitos rumah tangganya akan selalu mengalami percekcokan. Dan batikparahita.com menginformasikan biasanya untuk para wanita Jogja menggunakan parang dari arak kiri atas ke kanan, untuk pria dai kanan atas ke kiri. Tapi untuk Surakarta pria wanita sama arahnya dari kanan atas ke kiri.

Related posts: